February 23, 2014

saya tahu

saya tahu.
tidak seharusnya saya mengeluh. tidak seharusnya saya merasa marah dengan semuanya. tidak seharusnya saya meributkan tugas saya. tidak seharusnya saya meributkan keadaan saya. tidak seharusnya saya menyalahkan dunia.

karena yang salah sesungguhnya, tidak lain dan tidak bukan, adalah saya sendiri. setiap pilihan dalam kehidupan saya yang mungkin salah. dunia yang ada di sekitar kita hanyalah sekedar berputar sesuai dengan yang selalu ia lakukan.




saya belajar.
bahwa saya harus lebih bisa menghargai waktu. bagaimana di antara seluruh kesibukan yang saya miliki, di antara seluruh aspek kehidupan yang saya pilih untuk saya sentuh, saya harus mengoptimalisasikan semuanya.

saya hanya ingin semua orang senang. mungkinkah?

saya belajar untuk membuktikan diri saya. melalui tindakan. tidak hanya sekedar kata-kata. bahwa janji dibuat untuk ditepati. bahwa kebaikan yang sudah orang berikan bukan untuk diuji elastisitasnya, namun untuk dijaga dan dihargai dan jika mampu, dibalas di kemudian hari.

manusia hidup dengan hak dan kebebasannya masing-masing, yang saling dibatasi oleh hak dan kebebasan orang lain di sekitarnya. kata pamungkas ayah saya, heran, seharusnya selalu menjadi panutan saya. kata pamungkas senior saya, lihat dan baca, juga seharusnya selalu menjadi panutan saya. karena dengan hal-hal itu, kita dapat bertahan hidup dan berkembang.

February 1, 2014

dikelilingi mereka

mereka.
adalah keluarga saya.

awalnya mereka sama sekali bukan siapa-siapa untuk saya. bahkan saya tidak pernah membayangkan akan menjadikan mereka keluarga bagi saya. permainan mereka awalnya jauh dari permainan saya yang biasanya. dunia mereka belum pernah saya kenal sebelumnya. dan perkumpulan semacam ini sudah menjadi impian saya sejak saya masih duduk di bangku SMP.

mereka tidak selalu memberikan saya bahagia, namun mereka mengajarkan saya untuk bersabar dan terus bergerak maju mencapai kebahagiaan tersebut. seringnya mereka mengusik kenyamanan saya, dan begitulah mereka menyadarkan saya untuk mendobrak pagar saya demi membangun zona yang lebih luas.

mereka membuka mata saya.
mereka yang mempertemukan saya dengan berdiri di atas awan. mereka yang mengenalkan saya kepada jeram yang menantang. mereka yang memberikan saya kesempatan untuk mengelus lekukan tebing. mereka yang membawa saya pada kegelapan abadi. dan mereka yang menemani saya dalam setiap petualangan tersebut. petualangan yang sudah menjadi kisah bagi hidup saya. dan dicemaskan oleh kedua orang tua saya.

mereka, secara sadar dan tidak, secara langsung ataupun tidak, telah memberikan saya banyak hal.

keinginan untuk pergi bukan sekali dua kali mampir di kepala saya. bahkan jari di tangan seorang tidak cukup untuk memberikan angka yang tepat. hanya saja, pikiran untuk tidak dapat lagi bercengkrama dengan mereka, pikiran untuk tidak mendengar tawa mereka, tidak bertemu, dan menjadi asing. semua itu terlalu menyedihkan. dan saya tidak pernah sanggup untuk menghindar dan pergi.


akan jadi apakah nanti?
setelah mereka semua pergi. setelah saya pun pergi. setelah kami memiliki hidupnya masing-masing. dan di satu waktu kami kembali berkumpul dan menertawakan hal yang tetap sama dengan cerita yang masing-masing bawa dari kehidupannya.

dan petualangan pun dimulai dari sana. petualangan yang sesungguhnya.