December 19, 2013

me and just me

today is just another day. but it's today, not yesterday, not tomorrow. it is now.

baiklah, saya sendiri tidak mengerti dengan kalimat yang saya tulis sebelumnya.
saya sesungguhnya orang egois yang suka gak enakan. kontradiksi banget ya? ya, kadang saya terlalu dipenuhi dengan hal-hal yang berbau paradoks. dan kemudian saya menemukan, tidak, lebih tepatnya dipinjamkan sebuah buku. di dalam buku itu tertulis :
sesungguhnya hidup hanyalah mengenai paradigma berpikir kita terhadap diri kita sendiri yang terkadang terpengaruh oleh lingkungan. tapi semuanya, akan kembali lagi pada diri kita sendiri dalam mengambilkan kesimpulan mengenai kita.
saya juga sering berpikiran seperti itu, hanya saja terkadang tidak tahu mengapa saya selalu saja terpusat pada hal yang negatif. meskipun super ingin untuk menjadi manusia positif, akhirnya saya malah netral. terlalu netral hingga tidak benar-benar menganggap. salah banget sih itu menurut saya.

saya pun menemukan kalimat lain.
life isn't about finding yourself. life is about creating yourself. - George Bernard Shaw
tidak ada yang namanya pencarian jati diri. yang ada adalah keputusan bagi diri sendiri untuk kelanjutan hidup kita. untuk masa depan seperti apa yang kita inginkan. untuk seperti apa kita ingin orang lain menganggap dan memandang kita. karena semua keputusan itu, ada di tangan kita masing-masing. orang lain hanya bisa menawarkan bisikan-bisikan setan atau hembusan angin surga. yang memutuskan tetap diri kita sendiri.

makanya, memilih lingkungan bergaul itu penting. makanya, pembentukan karakter sejak dini di rumah, penanaman nilai-nilai dasar kehidupan dari kecil, itu penting. itulah yang kita jadikan pegangan sampai nanti besar. hal-hal itu, yang mendasar, antara mana yang baik dan buruk, yang sudah dikatakan dalam setiap ajaran agama, yang dijadikan jalur bagi kita untuk memilih. sisanya? pilihan kita.

jadi, kamu memilih untuk menjadi diri yang seperti apa?

December 11, 2013

obrolan warung kopi (1)



Malam sudah terlampau larut. Di jalanan di depan kedai kopi 24 jam itu sudah tidak terdengar bising kendaraan yang sibuk berlomba dengan bunyi klaksonnya. Bulan masih bersinar penuh pada pertengahan bulan ini. Posisinya tepat di atas kepala, menunjukkan hari yang sudah hampir mencapai ujungnya.
Lima cangkir kopi yang tersaji di salah satu meja sudah tidak lagi mengepulkan asapnya. Hanya saja, semangat yang terpancar dari tiga orang mahasiswa dan dua orang mahasiswi yang duduk melingkar di meja itu terlihat sangat menggebu-gebu. Meskipun mata rasanya sudah ingin terpejam, tubuh sudah berteriak ingin dibaringkan, hujan menari-nari di luar, api itu tidak surut.
“Kenapa mereka tidak mau mendengarkan?” seru Riana. “Bukankah mereka yang selalu mendorong kita, para mahasiswa, untuk berkreasi dan berbuat? Mengaplikasikan dan memberikan manfaat itu apa hanya sekedar kata yang diucapkan sambil lalu tanpa arti sesungguhnya?”

December 6, 2013

random

"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" Mata Jia menatap nanar. Laki-laki yang berdiri di hadapannya hanya diam. "Untuk apa lagi kamu muncul? Belum cukupkah kemarin itu kamu berusaha merobek dan menginjak semua mimpiku ke tanah?"
Jia tidak habis pikir. Dia sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikir laki-laki ini. Awalnya, ia datang dengan membawa matahari yang bersinar terang. Ya, ia menerangi jalan Jia yang sempat terasa begitu kelam. Ia menawarkan sejuta mimpi untuk dirajut dan digantungkan bersama. Ia memberikan sebuah pundak untuk beristirahat dan seorang teman untuk berlari menggapai mimpi. Jia pikir, semua akan seindah cerita dongeng yang sering ia baca. Hingga akhirnya, tidak, Jia tidak ingin mengingat hari itu lagi. Terlalu menyakitkan.
"Kenapa diam saja? Kamu lupa bagaimana caranya berbicara?" Jia berusaha untuk bersikap tegar meski air mata sudah menumpuk di pelupuk matanya. "Kalau akhirnya kamu hanya diam, lebih baik kamu pergi dari sini Dion. Aku lelah."
Udara sore itu sesungguhnya terlalu nyaman dan memberikan suasana damai. Namun, tidak di teras depan rumah Anjia Vindira. Atmosfer yang menyelubungi Jia dan Dion kala itu terlalu mencekam dan tidak menyenangkan. Padahal seharusnya kita berdua tidak seperti ini, Dion. Seharusnya kita tidak pernah berbicara dengan nada setinggi ini. Kita tidak pernah saling menolak pandangan satu sama lain. Lihat apa yang telah kamu lakukan kepada kita, Di.
"Boleh kita bicara sambil duduk?"
Dari sekian banyak hal yang perlu kamu jelaskan dan kamu hanya berkata seperti itu, Di? Jia bergerak menuju salah satu dari dua kursi yang ada di teras rumahnya. Diusapnya air mata yang mengumpul sebelum benar-benar jatuh ke pipinya. Ia tidak ingin menangis kembali karena laki-laki ini. Setidaknya, bukan di hadapannya.
"Apa kabar, Ji?" Dion bertanya sambil menyunggingkan senyumnya. Senyum menyenangkan itu. Senyum mendamaikan itu. Senyum yang Jia rindukan itu. Dan Jia memilih untuk diam sambil mengalihkan pandangannya pada langit yang mulai memerah.
"Ujian kemarin lancar semua? Jia mah pasti bisa A semua deh itu. Jia yang rajin dan pintar begini, mana mungkin bisa dapat nilai jelek." Dion tertawa kecil. "Kalo aku baru deh nilainya do re mi."
Jia tetap tidak ingin untuk membalas semua yang dikatakan Dion. Jia tidak ingin Dion mendengar suaranya yang bergetar. Jia takut hatinya akan mengambil alih seluruh kepalanya dan mengatakan yang sesungguhnya sedang ia rasakan saat ini. Ia ingin Dion sadar bahwa apa yang telah ia lakukan adalah salah. Bahwa ia benci Dion yang seegois itu.
Dion terdengar sedikit menghela napas dan mengatur ritme nafas serta emosinya. "Aku tau kamu pasti tidak akan pernah mau mendengarkan aku lagi. Aku datang kemari hari ini hanya ingin melihat kamu. Sekali saja setidaknya sebelum aku harus pergi. Aku perlu menghapal setiap detail darimu untuk menjaga semangatku tetap berada di posisi tertingginya. Karena sesungguhnya berinteraksi denganmu adalah kebutuhan layaknya obat yang perlu dikonsumsi secara rutin. Hanya ini yang bisa menjaga kepalaku tetap pada jalur dan tetap menjadi Dion yang waras dan menjejak tanah."
Jia tercenung mendengar penuturan Dion. Ia selalu tahu bagaimana seseorang sedang berbohong atau tidak dan ia tahu Dion tulus mengatakan setiap kata tersebut. Jia menekan dadanya. Rasanya tiba-tiba segalanya menjadi terlalu menyesakkan, bahkan ketika udara di sekitar sesegar ini. Kejujuran ini, justru ini yang Jia takutkan. Bahwa ia tidak bisa lagi mengelak bahwa Jia juga membutuhkannya. Bahwa ia rindu. Bahwa ia sebegitu inginnya untuk langsung mendekapnya dan melepaskan seluruh emosi yang ada.
"Nggak apa-apa kalau kamu masih nggak mau ngomong sama aku. Aku mengerti. Aku hanya ingin mengabarkan bahwa pekan depan aku berangkat ke Amerika. For good. Dan aku nggak tahu kapan akan kembali ke sini. Makanya aku mampir." Dion tersenyum dengan tatapannya yang lekat pada Jia.
"Kenapa baru sekarang?" Akhirnya Jia angkat bicara. Ia sudah tidak peduli lagi mengenai suaranya, mengenai air matanya, mengenai semuanya. Ia hanya butuh penjelasan. "Kenapa tidak sejak kemarin kamu kembali? Kenapa tidak sejak kemarin kita berbaikan sebelum luka yang ada menjadi terlalu dalam? Kamu jahat, Di."
Dion terdiam sejenak. "Butuh keberanian yang sangat besar untuk bisa bertemu muka denganmu lagi. Aku terlalu malu untuk kembali. Aku takut aku akan menyakiti kamu lagi nanti."
"Kamu yang pergi yang menyakiti aku. Kamu yang tidak pernah kembali lagi yang menghancurkan aku, Dion." Jia berbicara dengan suara tertahan. "Sesungguhnya aku kangen kamu." Semuanya pun tumpah.
Dion bergerak berdiri dan berjalan persis ke hadapan Jia. "Boleh aku peluk kamu?"
Jia berdiri dan memberikan dirinya. "Jangan pernah pergi lagi. Aku butuh kamu, Dion."
"Kamu mau ikut aku ke Amerika?" Dan mereka berdua tersenyum.
-fin.-

November 25, 2013

berkelana

Jadi, usaha saya untuk menghindari matahari sesungguhnya seharusnya masih berjalan. Hanya saja, saya terlalu nakal hingga akhirnya saya memilih untuk tidak segitunya. Namun, masalahnya adalah saya jadi tidak mendapatkan ijin untuk melakukan perjalanan operasional. Apapun itu.


Yups, if you feel like quitting, think about why you started. Kalau kamu mulai berpikir untuk menyerah, pikirkan kembali kenapa dulu kamu mau untuk memulai. Kalimat ini sempat menohok kepala saya yang memang mulai mentranformasikan rumus untuk 'pergi'. Dan kembali, saya tidak pernah bisa pergi begitu saja. Karena seperti yang selalu saya katakan jika berbicara mengenai mimpi. "Saya hanya ingin bisa meninggalkan jejak yang baik di setiap orang yang kehidupannya pernah saya sentuh." Itu saja, dan itu lebih dari cukup.

Dan segitu gak enakannya saya, saya tidak bisa semudah itu pergi meninggalkan apapun yang ada. Saya hanya ingin balas budi. Saya hanya ingin agar adik-adik saya dapat merasakan kesenangan yang sama dengan yang dulu saya rasakan bersama kakak-kakak saya. Saya ingin mereka mendapatkan manfaat yang sama. Saya ingin berguna. Saya ingin dilihat.

Egois ya?
Sometimes, saya hanya ingin akhirnya saya diakui untuk apapun yang sudah saya kerjakan. Saya ingin akhirnya saya bisa dianggap becus kerjaannya. Saya ingin menikmati tatapan bangga. Karena akhirnya saya hanya bisa mengecewakan mereka.

Intinya, mengusahakan yang terbaik bukan?
Dan jangan pernah berhenti, karena kamu tidak akan pernah tahu bahwa ternyata kamu hanya tinggal selangkah lagi dari kesuksesan yang kamu inginkan. Tuhan akan selalu berada di pihakmu selama kamu selalu dekat dengannya.

Memangnya saya jadi aneh? Saya hanya mencoba keseharian yang baru yang menurut saya adalah kesimpulan bentuk keseharian yang paling benar menurut analisis saya. Kalau menurut kamu ini aneh, saya benar-benar tidak tahu lagi harus seperti apa.

October 23, 2013

~sisasi

Kalau ada yang bertanya-tanya mengenai judul postingan kali ini, mungkin kalian bisa langsung pergi ke youtube.com, search di sana video Vicky Gotik. Dan juga video Sinetron Vicky. Pesan dari saya bagi yang ingin menonton video tersebut hanya satu. Selamat menikmati!

Niat awal saya adalah saya ingin memberikan judul berupa "kontemplasi".
kontemplasi /kon·tem·pla·si/ /kontémplasi/ n renungan dsb dng kebulatan pikiran atau perhatian penuh;

Yaps.
Gak tau kenapa, akhir-akhir ini saya selalu saja merasa ditampar. Semesta menampar saya setiap waktu. Mungkin saya memang butuh disadarkan. Sebegitu hancurnya saya sampai seluruh dunia harus mengingatkan yah? Menyedihkan sekali sepertinya.

Kepala saya seperti badai saat ini. Di satu waktu, saya singgah di satu tempat. Kemudian angin kembali bertiup dan saya diterbangkan ke tempat lainnya. Belum lama, angin kembali membawa saya ke tempat yang lain. Dan saya hanya bisa terbawa oleh angin yang bertiup itu. Oke, analogi tempat ini sebetulnya adalah satu pemikiran yang spesifik. Bukan tempat secara harfiah.

menantang

Selabil itulah saya mengatur mood saya pada satu waktu tertentu. Menit awal saya merasa senang dan menit berikutnya saya menjadi sangat pendiam. Dan ternyata saya yang pendiam itu benar-benar disadari oleh semua orang yah? Tiba-tiba terharu sendiri bahwa ternyata saya gak sebegitu invisible-nya. Mereka semua memperdulikan saya. Kebutuhan dasar manusia memang ternyata untuk selalu merasa diakui.

Saya ingin jalan-jalan. Saya kangen pemandangan alam. Saya kangen suara debur ombak. Saya kangen udara pantai yang amis. Saya kangen biru. Saya penat.

Akhir-akhir ini saya banyak memperhatikan yang lain. Sampai pada satu titik saya bahkan melupakan diri saya. Ini memang sangat buruk sesungguhnya, namun terkadang memang begitu adanya tanpa bisa saya cegah. Saya sebegitu memikirkan mereka. Dan saya benci ternyata bahkan orang yang terkadang saya paling percayai tidak bisa berlaku sesuai bayangan saya.

Maaf, saya berantakan.