Ketika setiap kata yang telah dirangkai berhenti di ujung lidah dan hanya sesal yang tertinggal saat kalimat tersebut kembali tertelan. Rasanya ingin membenci diri sendiri. Apa kelebihan diri ini saat bicara saja tidak mampu? Apa artinya keberadaanku yang tidak satu orang pun menyadarinya?
Sewaktu ketidakmengertian akibat ketiadaan komunikasi berubah menjadi masalah yang berarti. Lagi-lagi hanya sesal. Culun. Bodoh.
Tawa yang lebih kepada menyindir akhirnya keluar. Mengambil alih udara, memenuhi pendengaran, memecahkan gendang telinga. Cukup kalian mengingatkanku. Aku sudah terlalu ingat.
Terima kasih.
No comments:
Post a Comment