What if I don't love you anymore?
"Ya sudah. Yang penting kamu bilang."
But, that would be very sad and I don't want it.
"Ya kan hal itu juga gak akan terjadi begitu saja. Pasti ada sesuatu hal yang terjadi sebelumnya yang membuat kamu jadi seperti itu. Mungkin aku melakukan sesuatu yang bikin kamu memilih untuk berhenti. Atau apapun itu. Yang penting kamu selalu jujur."
Will we still cute and romantic after a very long time? I know this is a stupid question. It was suddenly there in my mind, one random night when I was trying to sleep. What if after we're married, we stop being cute? We stop trying to impress each other, to show our love to each other. What if?
"Sudah menikah, sudah tunangan, ataupun sudah pacaran, itu semua cuma mengenai status. Apa menurut kamu kalau mereka sudah menikah mereka sudah pasti akan bahagia? Apakah sudah pasti saling mencintai? Eh, jangan anggap pikiranku jahat lho, ini cuma contoh. Apa menurut kamu pasti?"
No?
"Nah. Semua tuh hanya mengenai alasannya. Kalau memang dia cuma cari statusnya, cuma cari uang atau tahtanya, ya kan beda pasti dengan yang memang mungkin ingin beribadah. Atau memang karena cinta? Maaf kalau bahasanya agak berlebihan. Tapi memang begitu bukan kenyataannya?"
Hmm.. Will we? Keep being fun?
"Kamu mau gak?"
I want it. Oh! I understand now. It's up to us, right?
Yup.
So, yeah, we will.
Insya Allah.
July 22, 2017
May 22, 2017
[142]
Saat ini saya sedang mencoba untuk mengikuti salah satu project buku di komunitas saya. Dan sungguh, rasanya menyenangkan. Sepertinya saya sekarang ini masih perlu untuk diberikan deadline agar benar-benar menulis, tidak hanya sekedar meracau. Yah, tidak seperti tulisan ini setidaknya.
Yang menyenangkan lagi adalah melihat salah seorang teman saya yang sangat berapi-api dan all out setiap kali memberikan penjelasan mengenai bagaimana menuliskan cerpen atau novel yang baik. Bagaimana dengan tanpa bayaran dia rela untuk membantu kami yang juga ingin bisa menerbitkan kisah-kisah kami.
Bukan asal membantu, di waktu senggangnya, ia mau untuk menghampiri kami di tempat yang berbeda hanya sekedar untuk memberikan materi menulis. Bahkan di salah satu tempat, akhirnya hanya satu orang yang datang dengan janji awal akan ada 3 orang. Di sela-sela waktunya, dia pun mengecek satu-satu tulisan kami ber-13, memberikan feedback bahkan per kata, dan mampu memikirkan saran untuk alur cerita yang lebih baik.
Ternyata seperti itu ya melihat orang yang bekerja berdasarkan passion mereka.
Saya terkesima.
Saat ini, saya juga sedang mencoba untuk membaca "The Happiness of Pursuit" oleh Chris Guillebeau. I found the book months ago and haven't picked it up for months, too. You know, books are piling up in my home I don't when I will start to finish them one by one. Susah banget untuk berhenti beli buku, lho. Saya sampai bingung sendiri.
Ya, jadi sejauh yang saya baca, buku itu mengenai orang-orang yang menemukan hal yang sangat menarik bagi dirinya hingga mereka membuat misi di hidup mereka. Dan sebagaimana anehnya misi mereka tersebut, mereka bahagia menjalani hidup yang mereka jalani karena memang itu adalah hal yang sangat menginspirasi mereka dalam hidup.
Entah, setiap kali saya bertemu orang yang berapi-api, yang menuangkan seluruh hatinya dalam apa yang ia kerjakan, yang memancarkan hal tersebut setiap kali ia melakukan sesuatu ataupun menceritakan kisah tersebut, saya sedih sendiri. Saya apa?
Setelah saya pikir kembali, apa yang selama ini mengganggu saya?
Hem, saya terganggu dengan bagaimana seseorang bisa semena-mena hanya karena merasa lebih dalam hal kekayaan atau pengetahuan atau posisi. Saya terganggu dengan orang yang tidak bisa bersikap dengan lebih sopan, tak peduli terhadap yang lebih tua ataupun yang lebih muda. Dan saya terganggu terhadap orang-orang yang tidak bisa mengatakan apa yang sebenarnya ada di kepala mereka.
But, semalu apapun saya mengakui ini, what excites me the most is love relationship. I don't know why I feel shame of this, tapi memperhatikan bagaimana seseorang berinteraksi dalam suatu hubungan, mempelajari nature of a man and a woman, kok kayaknya menarik banget. Saya juga tidak tahu apakah mengenai hubungan percintaan itu sendiri atau mengenai manusianya yang menarik, tapi saya sungguh memang tertarik.
Meskipun begitu, saya masih tidak tahu akan mengambil jurusan apa untuk studi master saya.
Yang menyenangkan lagi adalah melihat salah seorang teman saya yang sangat berapi-api dan all out setiap kali memberikan penjelasan mengenai bagaimana menuliskan cerpen atau novel yang baik. Bagaimana dengan tanpa bayaran dia rela untuk membantu kami yang juga ingin bisa menerbitkan kisah-kisah kami.
Bukan asal membantu, di waktu senggangnya, ia mau untuk menghampiri kami di tempat yang berbeda hanya sekedar untuk memberikan materi menulis. Bahkan di salah satu tempat, akhirnya hanya satu orang yang datang dengan janji awal akan ada 3 orang. Di sela-sela waktunya, dia pun mengecek satu-satu tulisan kami ber-13, memberikan feedback bahkan per kata, dan mampu memikirkan saran untuk alur cerita yang lebih baik.
Ternyata seperti itu ya melihat orang yang bekerja berdasarkan passion mereka.
Saya terkesima.
Saat ini, saya juga sedang mencoba untuk membaca "The Happiness of Pursuit" oleh Chris Guillebeau. I found the book months ago and haven't picked it up for months, too. You know, books are piling up in my home I don't when I will start to finish them one by one. Susah banget untuk berhenti beli buku, lho. Saya sampai bingung sendiri.
Ya, jadi sejauh yang saya baca, buku itu mengenai orang-orang yang menemukan hal yang sangat menarik bagi dirinya hingga mereka membuat misi di hidup mereka. Dan sebagaimana anehnya misi mereka tersebut, mereka bahagia menjalani hidup yang mereka jalani karena memang itu adalah hal yang sangat menginspirasi mereka dalam hidup.
Entah, setiap kali saya bertemu orang yang berapi-api, yang menuangkan seluruh hatinya dalam apa yang ia kerjakan, yang memancarkan hal tersebut setiap kali ia melakukan sesuatu ataupun menceritakan kisah tersebut, saya sedih sendiri. Saya apa?
Setelah saya pikir kembali, apa yang selama ini mengganggu saya?
Hem, saya terganggu dengan bagaimana seseorang bisa semena-mena hanya karena merasa lebih dalam hal kekayaan atau pengetahuan atau posisi. Saya terganggu dengan orang yang tidak bisa bersikap dengan lebih sopan, tak peduli terhadap yang lebih tua ataupun yang lebih muda. Dan saya terganggu terhadap orang-orang yang tidak bisa mengatakan apa yang sebenarnya ada di kepala mereka.
But, semalu apapun saya mengakui ini, what excites me the most is love relationship. I don't know why I feel shame of this, tapi memperhatikan bagaimana seseorang berinteraksi dalam suatu hubungan, mempelajari nature of a man and a woman, kok kayaknya menarik banget. Saya juga tidak tahu apakah mengenai hubungan percintaan itu sendiri atau mengenai manusianya yang menarik, tapi saya sungguh memang tertarik.
Meskipun begitu, saya masih tidak tahu akan mengambil jurusan apa untuk studi master saya.
May 11, 2017
[131]
Pada akhirnya, target yang saya gembar gemborkan di awal tahun pun tidak terlihat sama sekali. Tidak terlaksana sama sekali. Agak sedih juga, ya?
Dari mengenai satu postingan sehari dalam setahun hingga jogging tiap pagi. Belum ada yang terlaksana. Saya mau bicara saya harus mulai lagi, namun saya takut malu omongan tersebut hanya bertahan lima menit dan akhirnya ratusan hari akan kembali terlewati tanpa apapun. Dan tetiba saja saya sudah berakhir di penghujung tahun.
Ghaniyya, sesungguhnya apa yang kamu inginkan?
Dari mengenai satu postingan sehari dalam setahun hingga jogging tiap pagi. Belum ada yang terlaksana. Saya mau bicara saya harus mulai lagi, namun saya takut malu omongan tersebut hanya bertahan lima menit dan akhirnya ratusan hari akan kembali terlewati tanpa apapun. Dan tetiba saja saya sudah berakhir di penghujung tahun.
Ghaniyya, sesungguhnya apa yang kamu inginkan?
April 9, 2017
[99] fluctuate
"You can get mad at me. You can hit me as hard as you want. You can yell at me. But please remember one thing, don't ever ignore me. It hurts." -him-I don't know what happened with these past few weeks (or months?). I turned into this sensitive jerk who easily got angry when nobody's around or when I was in front of some really close people.
"Sweetheart, let's try to control it better. Try to calm yourself down whenever you feel like getting angry. It never does you any good, doesn't it? Another thing, don't vent your anger to things around you. Maybe it's just your doll or headset for now, but we never know what would happen in the future. It could be me that you break." -him-Yeah. I realize it already, from when I was angry to be exact. I didn't even want to get angry. I know that I was just hurting myself doing so. But, you know, sometimes you just wanted people to know. You just wanted people to understand and to feel the same anger that you had. And..... it's totally wrong.
Let's be calm and be more patient.
Bismillah..
February 20, 2017
obat
Pada akhirnya, saya memutuskan untuk bekerja. Sudah berjalan sekitar 3 minggu semenjak hari pertama saya bekerja. Lingkungan saya bekerja bukanlah lingkungan yang asing, malah telah menjadi bagian dari kehidupan saya selama satu setengah tahun terakhir. Tidak membutuhkan waktu lama untuk menyesuaikan diri dengan orang-orang di dalamnya. Namun, untuk bisa perform dengan baik? There are still A LOT of things to work on.
Saya banyak belajar. Bagaimana untuk bangun pagi (obviously). Bagaimana untuk bisa menjaga mood saya dengan baik sepanjang hari. Bagaimana menjadi pendengar yang baik dan menjadi seseorang yang bisa dipercaya untuk bisa didengar. Bagaimana memahami orang lain dan membantu mereka menghadapi dan mengurai kegugupan mereka. Bagaimana memberikan diri saya untuk orang lain dan berhenti mengeluh.
Namun, kau tahu. Manusia.
Kamu akan tetap membutuhkan tempat untuk tumpah. Setelah seharian kamu ada untuk orang lain, kamu ingin menutup harimu dengan orang yang ada untukmu, bukan begitu?
Jadilah kebutuhan saya untuk bertemu meningkat. Setidaknya sekedar mendengar suaranya. Saya bukan orang yang pandai untuk bercerita. Pada akhirnya, ketika kami bertemu pun saya tidak menceritakan apapun. Saya hanya bersandar. Dan lagi-lagi menjadi pendengar yang baik. Namun, karena itu dia, semua menjadi berbeda. Meskipun saya hanya mendengarkan, lelah saya bisa terkikis. Walaupun terkadang dia berkeluh kesah mencari pegangan, saya harus ada untuk orang lain, tapi karena itu dia, saya tidak lelah. Yah, meskipun perlu saya akui terkadang saya lelah dengan gurauannya yang "sangat lucu".
Terima kasih untuk kehadirannya.
Terima kasih untuk "saling"nya.
Subscribe to:
Posts (Atom)