Sesungguhnya saya juga kurang mengerti harus memulai kisah ini dari mana.
Mungkin hal ini bisa dimulai dari puluhan atau ratusan tahun yang lalu. Sejak akhir abad ke-19 yang lalu, wanita mulai mengkoar-koarkan apa yang dikenal dengan gender equality. Menurut para pejuang kesetaraan gender, wanita seharusnya mendapatkan kesempatan dan hak yang sama atas setiap hal yang bisa didapatkan oleh lelaki.
Jika lelaki bisa mengenyam pendidikan setinggi-tingginya, wanita juga boleh.
Jika lelaki bisa mendapatkan posisi yang tinggi dalam perusahaan, wanita juga boleh.
Jika lelaki berhak atas gaji 1 untuk pekerjaan yang sama, wanita juga boleh.
Jika lelaki bisa, seharusnya wanita juga bisa.
Begitu juga dari sisi sebaliknya.
Mengurus rumah bukan cuma tugas wanita.
Mengasuh dan mendidik dan membesarkan anak bukan cuma tugas wanita.
Urusan dapur bukan cuma menjadi urusan wanita.
Pandangan-pandangan ini pun kemudian berkembang. Pendukungnya memanggil diri mereka sebagai seorang feminis. Seorang pejuang hak perempuan.
Sayangnya, ketika para perempuan menuntut kesetaraan, perempuan tetap ingin dilihat sebagai perempuan. Yang tetaplah cenderung lebih emosional. Yang tetaplah memiliki kemampuan fisik yang cenderung lebih rendah. Yang tetaplah ingin diberi tempat duduk di kendaraan umum. Dan banyak tetaplah lainnya.
Mereka menuntut kesetaraan, namun tidak konsisten terhadap semua hal untuk disetarakan.
Banyak yang menyalahartikan bahwa laki-laki dan perempuan membutuhkan equality, suatu kesetaraan atau kesamaan. Dan sebelumnya pun saya memiliki anggapan yang kurang lebih sama.
Hingga suatu hari, entah kenapa, pikiran saya tergugah saat memperhatikan telapak tangan laki-laki. Ketika itu, terlintas pemikiran
Kenapa telapak tangan laki-laki selalu lebih besar dari perempuan? Bahkan untuk mereka yang memiliki tinggi dan berat badan yang kurang lebih sama.
Sesungguhnya saya melihat caption di atas sudah lebih dari setahun yang lalu. Hanya saja, ketika itu, saya masih belum benar-benar memahami maksud dari apa yang disampaikan.
Ketika pertanyaan di atas melintas dan saya kontemplasikan lebih jauh, barulah saya tersadar. Oh, ini sebetulnya yang dimaksud. Tidak seharusnya kesetaraan yang dikejar. Ialah kesepatutan.
Ialah kesesuaiannya dengan fitrahnya masing-masing.
Allah Maha Besar.
Segalanya telah diciptakan sedemikian rupa hingga ke taraf sel dan DNA dan seluruh kedetilannya dengan alasan. Terdapat makna untuk setiap hal yang telah diciptakan. Terdapat kebesaran-Nya di setiap bagian dari kita. Bahwa selalu ada maksud dari semuanya.
Kalau menyontek bahasa yang sering digunakan di lingkungan kantor saya,
segala hal di dunia memiliki rumusan. pelajari. ikuti. jangan dilawan.
Begitu pula dengan peran bagi setiap gender.
No comments:
Post a Comment