May 19, 2015

future (?)

Masa depan.
Itu apa?

Mungkin siapapun di luar sana dapat membantu. Karena saya pribadi sungguh tidak mengerti dengan segala perbincangan orang-orang ini. Pertanyaan yang mengandai-andai, mimpi dan juga harapan, angan-angan, mungkin.

Satu hal yang pernah saya pelajari selama saya melakukan perjalanan,
Jangan terlalu fokus pada hal yang terlalu jauh, karena bisa jadi kamu akan tersandung oleh hal tepat di hadapanmu.
Atau mungkin kalimat ini tertanam secara alam bawah sadar hingga akhirnya saya pun terbawa untuk tidak terlalu berangan terlalu maju.

Dan ketika kembali dipertimbangkan, pada akhirnya harapan itu akan menjadi hal yang terus menarik kita untuk terus maju dengan semangat penuh. Mimpi itu juga yang terus mengangkat kita yang terkadang jatuh akibat satu atau dua kerikil. Angan yang terus mendorong kita tetap melangkah. Kemungkinan itu yang terus menemani dan membuat kita selalu percaya.

Karena keajaiban itu adalah nyata.

May 14, 2015

atrium, koridor, balkon, apapun itu namanya

          Bel istirahat berbunyi. Guru di depan terlihat masih merapikan barang-barangnya dan demi alasan kesopanan aku menunggu setengah sabar untuk beliau keluar ruangan dan aku menyusul menuju koridor di depan kelas. Pelajaran Pak Bambang hari ini tidak seperti biasanya. Terlalu datar dan tidak menarik. Sepertinya benar apa yang dikatakan oleh gosip yang beredar, beliau sedang tidak enak badan. Maaf ya, Pak, saya juga sedang tidak enak pikiran.
          "Sha, kantin yuk." Kirana menepuk pundakku dari belakang dan ikut menyandarkan badannya ke koridor. Dia merupakan salah satu sahabat terbaik yang ada di hidupku. Sayangnya, pengaturan tempat duduk kelas tidak mengijinkan kami untuk duduk bersebelahan.
          "Duluan aja, Na. Aku lagi gak mood makan nih."
          Setelah bertanya berulang kali dan aku terus meyakinkan dia untuk pergi tanpa aku, akhirnya dia menyerah dan membiarkan aku sendiri dengan pikiranku. Mataku kembali kepada ruang kelas yang tepat bersebrangan dengan ruanganku. Dia sedang tertawa bersama kawan-kawannya di depan kelas. Aku tidak tahu apa yang dilontarkan oleh kawannya itu hingga ia bisa terpingkal sekeras itu. Bagian ini adalah bagian yang paling aku nikmati. Beberapa menit kemudian adalah bagian yang paling aku benci.
          Nah, itu dia. Juga seorang seniorku, namun tidak satu angkatan dengan dia. Seorang wanita berjalan menuju dia. Dia yang sedang tertawa hingga matanya hanya tinggal segaris menyadari kehadiran wanita itu dan tersenyum semakin lebar. Aku bahagia, tidak sepenuhnya, melihat senyumannya. Bukan aku alasannya. Dan aku benci untuk tidak melakukan apapun atas itu.
          "Alysha, mau sampai kapan?" Kirana sudah kembali bersama waffle di tangan kanan dan jus pisang strawberry di tangan kiri yang kini ia sodorkan ke arahku.
          "Na!" Aku menunduk menyembunyikan kepalaku. "Jangan ditanya begitu. Aku jadi malu dan sedikit merasa bodoh."
          Kirana masih bersikeras untuk aku meminum jus yang ada di tangannya. Dia selalu tahu apa yang paling aku sukai. Setelah aku menyeruputnya, Kirana kembali menjawab. "Kalau memang dia untuk kamu, akan tiba waktunya dia akan ke kamu. Kalau memang bukan, mau kamu liatin kayak begitu sampai lumutan pun ya tidak akan ada yang terjadi. Daripada kamu buang-buang waktu, kamu lupa diri kamu, kamu gak semangat, kamu tidak mencoba mengenal dunia yang lain, untuk apa? Jangan sampai kamu menyesal nantinya."
          Aku terdiam.
          "Jadilah dirimu yang terbaik. Biarkan laki-laki itu yang melirik dan berusaha merebut hatimu daripada kamu yang bersusah-susah mengharapkan mereka mau kamu. Jangan merendahkan dirimu sendiri karena kamu sebenarnya sengatlah berharga." (end)

May 4, 2015

Kembali Ke Dalam

Pernah suatu kali saya membaca,
Justru dengan ngotot ingin bilang, ingin pacaran, ingin aneh-aneh,
Perasaan itu tiba-tiba bermetamorfosis menjadi egoisme,
dan sebatas keinginan yang tidak terkendali saja.
(Dikatakan atau Tidak Dikatakan, Itu Tetap Cinta - Tere Liye)

Dan saya pun berpikir, mengingat ke belakang, dan melihat ke dalam. Mungkin saya memang belum sedewasa yang saya bayangkan. Memang masih banyak sisi dari dunia yang tidak saya kenali. Hidup pun baru berumur seujung kuku.

Saya teringat,
memang saya tahu apa?


April 6, 2015

Sepotong

          Suara deruman motor yang tiba-tiba dan bau emisi gas buang motor tersebut membuyarkan lamunan Kimi. Ibukota, di pinggir ibukota sekalipun, sama sekali tidak membuatnya mendapat kesempatan untuk mendapatkan kedamaiannya. Memandang jauh memang salah satu kebiasaan buruk Kimi yang hingga saat ini masih sangat sulit untuk ia hilangkan.
          Kimi tidak membutuhkan kesunyian total, pemandangan indah, atau cuaca tertentu untuk bisa masuk ke dalam fase kosongnya itu. Dia hanya butuh melepaskan ikatan pada pikirannya sesaat dan membiarkan dia berjalan-jalan jauh. Terkadang perjalanan tersebut terhenti di pertengahan, dan di lain waktu berakhir dengan sendirinya bersamaan dengan hadirnya kesadaran yang baru.
          "Kapan semua akan sadar untuk berhenti dan memulai meresapi segalanya?" Kimi berujar kepada dirinya sendiri. Ketika tangannya mulai bergerak menjangkau buku tulis dalam ransel abu-abu kesayangannya, ponsel Kimi berbunyi menunjukkan waktu untuk pulang. Sedikit kecewa, Kimi bergegas merapikan barangnya yang memang tidak banyak dan berjalan menghentikan angkot biru jurusan rumahnya.

(...)

April 5, 2015

Kontemplasi Tengah Malam

Segalanya kabur.
Benar, salah, masihkah penting?
Batas yang ada mulai runtuh.
Tembok batu menjulang, namun tidak lagi melindungi.
Meregang dan tidak kembali.
Waktu, berhentikah?
Dunia, sudah terbalik?
Kamu, kemana?
Arah kembali kepadaNya.
Dia, yang tidak terlihat, tidak tersentuh, tidak berwujud, berbeda dari dunia yang dimengerti oleh indra manusia.
Dia menjadi yang paling masuk akal.
Malu pun menguasai.
Mohon ampun, maaf, dan terima kasih terus diulang.
Bibir diam ketika hati berisik.
Aku merunduk dan bersujud.
Memasrahkan diri atas usaha.

Dan dunia jauh di belakang.