Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

May 14, 2015

atrium, koridor, balkon, apapun itu namanya

          Bel istirahat berbunyi. Guru di depan terlihat masih merapikan barang-barangnya dan demi alasan kesopanan aku menunggu setengah sabar untuk beliau keluar ruangan dan aku menyusul menuju koridor di depan kelas. Pelajaran Pak Bambang hari ini tidak seperti biasanya. Terlalu datar dan tidak menarik. Sepertinya benar apa yang dikatakan oleh gosip yang beredar, beliau sedang tidak enak badan. Maaf ya, Pak, saya juga sedang tidak enak pikiran.
          "Sha, kantin yuk." Kirana menepuk pundakku dari belakang dan ikut menyandarkan badannya ke koridor. Dia merupakan salah satu sahabat terbaik yang ada di hidupku. Sayangnya, pengaturan tempat duduk kelas tidak mengijinkan kami untuk duduk bersebelahan.
          "Duluan aja, Na. Aku lagi gak mood makan nih."
          Setelah bertanya berulang kali dan aku terus meyakinkan dia untuk pergi tanpa aku, akhirnya dia menyerah dan membiarkan aku sendiri dengan pikiranku. Mataku kembali kepada ruang kelas yang tepat bersebrangan dengan ruanganku. Dia sedang tertawa bersama kawan-kawannya di depan kelas. Aku tidak tahu apa yang dilontarkan oleh kawannya itu hingga ia bisa terpingkal sekeras itu. Bagian ini adalah bagian yang paling aku nikmati. Beberapa menit kemudian adalah bagian yang paling aku benci.
          Nah, itu dia. Juga seorang seniorku, namun tidak satu angkatan dengan dia. Seorang wanita berjalan menuju dia. Dia yang sedang tertawa hingga matanya hanya tinggal segaris menyadari kehadiran wanita itu dan tersenyum semakin lebar. Aku bahagia, tidak sepenuhnya, melihat senyumannya. Bukan aku alasannya. Dan aku benci untuk tidak melakukan apapun atas itu.
          "Alysha, mau sampai kapan?" Kirana sudah kembali bersama waffle di tangan kanan dan jus pisang strawberry di tangan kiri yang kini ia sodorkan ke arahku.
          "Na!" Aku menunduk menyembunyikan kepalaku. "Jangan ditanya begitu. Aku jadi malu dan sedikit merasa bodoh."
          Kirana masih bersikeras untuk aku meminum jus yang ada di tangannya. Dia selalu tahu apa yang paling aku sukai. Setelah aku menyeruputnya, Kirana kembali menjawab. "Kalau memang dia untuk kamu, akan tiba waktunya dia akan ke kamu. Kalau memang bukan, mau kamu liatin kayak begitu sampai lumutan pun ya tidak akan ada yang terjadi. Daripada kamu buang-buang waktu, kamu lupa diri kamu, kamu gak semangat, kamu tidak mencoba mengenal dunia yang lain, untuk apa? Jangan sampai kamu menyesal nantinya."
          Aku terdiam.
          "Jadilah dirimu yang terbaik. Biarkan laki-laki itu yang melirik dan berusaha merebut hatimu daripada kamu yang bersusah-susah mengharapkan mereka mau kamu. Jangan merendahkan dirimu sendiri karena kamu sebenarnya sengatlah berharga." (end)

April 6, 2015

Sepotong

          Suara deruman motor yang tiba-tiba dan bau emisi gas buang motor tersebut membuyarkan lamunan Kimi. Ibukota, di pinggir ibukota sekalipun, sama sekali tidak membuatnya mendapat kesempatan untuk mendapatkan kedamaiannya. Memandang jauh memang salah satu kebiasaan buruk Kimi yang hingga saat ini masih sangat sulit untuk ia hilangkan.
          Kimi tidak membutuhkan kesunyian total, pemandangan indah, atau cuaca tertentu untuk bisa masuk ke dalam fase kosongnya itu. Dia hanya butuh melepaskan ikatan pada pikirannya sesaat dan membiarkan dia berjalan-jalan jauh. Terkadang perjalanan tersebut terhenti di pertengahan, dan di lain waktu berakhir dengan sendirinya bersamaan dengan hadirnya kesadaran yang baru.
          "Kapan semua akan sadar untuk berhenti dan memulai meresapi segalanya?" Kimi berujar kepada dirinya sendiri. Ketika tangannya mulai bergerak menjangkau buku tulis dalam ransel abu-abu kesayangannya, ponsel Kimi berbunyi menunjukkan waktu untuk pulang. Sedikit kecewa, Kimi bergegas merapikan barangnya yang memang tidak banyak dan berjalan menghentikan angkot biru jurusan rumahnya.

(...)

December 22, 2014

#4 firasat

Aku kembali menoleh ke belakang dan kembali memastikan ke sekitar untuk yang kesekian kalinya hari ini. Entah apa yang sebenarnya terjadi, aku selalu merasa seakan ada yang sedang mengikuti dan memperhatikanku dari kejauhan. Hanya saja setiap kali aku mencoba untuk memastikan, tidak ada hal aneh apapun yang bisa terdeteksi.

"Key? Ada apa? Kamu terlihat aneh sejak tadi. Kamu seperti panik dan ketakutan." Ziva mencoba membantuku. Aku bahkan tidak tahu apa masalahku yang sebenarnya, bagaimana aku bisa mengetahui bagaimana cara membantu aku?

"Nggak ada apa-apa kok Zi. Aku cuma merasa kurang enak badan aja." Aku tersenyum sambil berusaha menahan diri untuk tidak kembali menoleh ke sekeliling. Perasaan aneh itu kembali datang seperti saat ada tatapan yang mencoba menusukmu dari belakang.

-------------

Keara, bahkan kamu bisa merasakan kehadiranku. Setelah hampir dua tahun aku pergi, sebesar inikah sesungguhnya ikatan yang ada di antara kita? Apa yang telah terjadi dengan kamu dan aku selama ini?

Sudah beberapa hari terakhir, aku tidak dapat menahan diri untuk tidak kembali dan mengunjungimu. Aku mengikuti setiap langkahmu. Aku menunggu setiap kegiatanmu. Aku memperhatikan setiap detail dari ekspresimu. Aku ingin memastikan kamu tetap bahagia dengan kehidupanmu. Dan aku ingin kamu mengetahui bahwa aku selalu ada bersama semua orang dan makhluk yang mengelilingimu.

Mungkin mendatangimu kembali dan mengusik ketenanganmu dalam beberapa hari terakhir ini adalah sebuah kesalahan. Aku hanya ingin mengirimkan pesan khusus untukmu. "Keara, kamu harus bahagia dan aku akan selalu menjagamu". Hanya saja, jiwa ini tidak mampu melakukan apa-apa selain membuatmu gelisah.

Untuk terakhir, aku memberanikan diriku untuk mencoba menggenggam tanganmu. Menautkan jemariku pada jemari tanganmu yang panjang, tercipta untuk menjadi pianis yang handal. Aku tersenyum dan meraih tanganmu, menatapmu untuk yang terakhir.

-------------

"Aldan?" Aku berbisik pelan, takut Ziva mendengar. Genggaman ini hanya miliknya. Ia satu-satunya yang mampu mengalirkan perasaan semacam ini dengan sentuhannya. Aku menggerakkan tanganku yang satu dan menumpukkannya pada sebelah tanganku yang lain.

"Ini kamu. Selama ini." Aku tersenyum, menahan air mata yang menyeruak ingin melarikan diri.

-------------

"Iya, Keara. Akan selalu aku." Aku menggenggamnya lebih erat.


(22-23 Desember 2014)

March 12, 2014

hilang

Amara : Jika tiba saatnya saya menghilang, apakah kamu akan kehilangan? Akankah saya menemukanmu sedang mencari saya?

Artama : Ama, perlukah kamu pertanyakan lagi hal ini? Sebegitu tidak percayanyakah kamu pada saya?

Amara : Ternyata sesulit itu untuk mempercayaimu seutuhnya, Ara. Karena rasa sesak di dada saya selalu muncul saat mengingatmu. Mungkin memang hanya sekedar saya yang terlalu berlebihan.

Artama : Biarkan aku tahu, Ama. Buat aku mengerti. Karena jika memang segalanya menyiksamu, aku tidak kuat untuk menahan itu semua. Aku di sini lebih tersiksa melihat kamu yang kehilangan senyummu.

Amara : Ara, saya mohon. Jangan buat saya kembali hanya dengan lisanmu. Buat saya percaya dengan tindakanmu. Karena saya tidak ingin melakukan kesalahan untuk ke-sekian kalinya.

(Ara bergerak memeluk, namun Ama menghindar)

Amara : Jangan, Ara. Cukup. Saya pamit dulu. Selamat malam.

(Ara tidak sanggup memberikan respon apapun. Ia bergeming. Hatinya kosong. Pikirannya kosong. Napasnya tersengal. Dan dunia menjadi gelap)

December 11, 2013

obrolan warung kopi (1)



Malam sudah terlampau larut. Di jalanan di depan kedai kopi 24 jam itu sudah tidak terdengar bising kendaraan yang sibuk berlomba dengan bunyi klaksonnya. Bulan masih bersinar penuh pada pertengahan bulan ini. Posisinya tepat di atas kepala, menunjukkan hari yang sudah hampir mencapai ujungnya.
Lima cangkir kopi yang tersaji di salah satu meja sudah tidak lagi mengepulkan asapnya. Hanya saja, semangat yang terpancar dari tiga orang mahasiswa dan dua orang mahasiswi yang duduk melingkar di meja itu terlihat sangat menggebu-gebu. Meskipun mata rasanya sudah ingin terpejam, tubuh sudah berteriak ingin dibaringkan, hujan menari-nari di luar, api itu tidak surut.
“Kenapa mereka tidak mau mendengarkan?” seru Riana. “Bukankah mereka yang selalu mendorong kita, para mahasiswa, untuk berkreasi dan berbuat? Mengaplikasikan dan memberikan manfaat itu apa hanya sekedar kata yang diucapkan sambil lalu tanpa arti sesungguhnya?”

December 6, 2013

random

"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" Mata Jia menatap nanar. Laki-laki yang berdiri di hadapannya hanya diam. "Untuk apa lagi kamu muncul? Belum cukupkah kemarin itu kamu berusaha merobek dan menginjak semua mimpiku ke tanah?"
Jia tidak habis pikir. Dia sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikir laki-laki ini. Awalnya, ia datang dengan membawa matahari yang bersinar terang. Ya, ia menerangi jalan Jia yang sempat terasa begitu kelam. Ia menawarkan sejuta mimpi untuk dirajut dan digantungkan bersama. Ia memberikan sebuah pundak untuk beristirahat dan seorang teman untuk berlari menggapai mimpi. Jia pikir, semua akan seindah cerita dongeng yang sering ia baca. Hingga akhirnya, tidak, Jia tidak ingin mengingat hari itu lagi. Terlalu menyakitkan.
"Kenapa diam saja? Kamu lupa bagaimana caranya berbicara?" Jia berusaha untuk bersikap tegar meski air mata sudah menumpuk di pelupuk matanya. "Kalau akhirnya kamu hanya diam, lebih baik kamu pergi dari sini Dion. Aku lelah."
Udara sore itu sesungguhnya terlalu nyaman dan memberikan suasana damai. Namun, tidak di teras depan rumah Anjia Vindira. Atmosfer yang menyelubungi Jia dan Dion kala itu terlalu mencekam dan tidak menyenangkan. Padahal seharusnya kita berdua tidak seperti ini, Dion. Seharusnya kita tidak pernah berbicara dengan nada setinggi ini. Kita tidak pernah saling menolak pandangan satu sama lain. Lihat apa yang telah kamu lakukan kepada kita, Di.
"Boleh kita bicara sambil duduk?"
Dari sekian banyak hal yang perlu kamu jelaskan dan kamu hanya berkata seperti itu, Di? Jia bergerak menuju salah satu dari dua kursi yang ada di teras rumahnya. Diusapnya air mata yang mengumpul sebelum benar-benar jatuh ke pipinya. Ia tidak ingin menangis kembali karena laki-laki ini. Setidaknya, bukan di hadapannya.
"Apa kabar, Ji?" Dion bertanya sambil menyunggingkan senyumnya. Senyum menyenangkan itu. Senyum mendamaikan itu. Senyum yang Jia rindukan itu. Dan Jia memilih untuk diam sambil mengalihkan pandangannya pada langit yang mulai memerah.
"Ujian kemarin lancar semua? Jia mah pasti bisa A semua deh itu. Jia yang rajin dan pintar begini, mana mungkin bisa dapat nilai jelek." Dion tertawa kecil. "Kalo aku baru deh nilainya do re mi."
Jia tetap tidak ingin untuk membalas semua yang dikatakan Dion. Jia tidak ingin Dion mendengar suaranya yang bergetar. Jia takut hatinya akan mengambil alih seluruh kepalanya dan mengatakan yang sesungguhnya sedang ia rasakan saat ini. Ia ingin Dion sadar bahwa apa yang telah ia lakukan adalah salah. Bahwa ia benci Dion yang seegois itu.
Dion terdengar sedikit menghela napas dan mengatur ritme nafas serta emosinya. "Aku tau kamu pasti tidak akan pernah mau mendengarkan aku lagi. Aku datang kemari hari ini hanya ingin melihat kamu. Sekali saja setidaknya sebelum aku harus pergi. Aku perlu menghapal setiap detail darimu untuk menjaga semangatku tetap berada di posisi tertingginya. Karena sesungguhnya berinteraksi denganmu adalah kebutuhan layaknya obat yang perlu dikonsumsi secara rutin. Hanya ini yang bisa menjaga kepalaku tetap pada jalur dan tetap menjadi Dion yang waras dan menjejak tanah."
Jia tercenung mendengar penuturan Dion. Ia selalu tahu bagaimana seseorang sedang berbohong atau tidak dan ia tahu Dion tulus mengatakan setiap kata tersebut. Jia menekan dadanya. Rasanya tiba-tiba segalanya menjadi terlalu menyesakkan, bahkan ketika udara di sekitar sesegar ini. Kejujuran ini, justru ini yang Jia takutkan. Bahwa ia tidak bisa lagi mengelak bahwa Jia juga membutuhkannya. Bahwa ia rindu. Bahwa ia sebegitu inginnya untuk langsung mendekapnya dan melepaskan seluruh emosi yang ada.
"Nggak apa-apa kalau kamu masih nggak mau ngomong sama aku. Aku mengerti. Aku hanya ingin mengabarkan bahwa pekan depan aku berangkat ke Amerika. For good. Dan aku nggak tahu kapan akan kembali ke sini. Makanya aku mampir." Dion tersenyum dengan tatapannya yang lekat pada Jia.
"Kenapa baru sekarang?" Akhirnya Jia angkat bicara. Ia sudah tidak peduli lagi mengenai suaranya, mengenai air matanya, mengenai semuanya. Ia hanya butuh penjelasan. "Kenapa tidak sejak kemarin kamu kembali? Kenapa tidak sejak kemarin kita berbaikan sebelum luka yang ada menjadi terlalu dalam? Kamu jahat, Di."
Dion terdiam sejenak. "Butuh keberanian yang sangat besar untuk bisa bertemu muka denganmu lagi. Aku terlalu malu untuk kembali. Aku takut aku akan menyakiti kamu lagi nanti."
"Kamu yang pergi yang menyakiti aku. Kamu yang tidak pernah kembali lagi yang menghancurkan aku, Dion." Jia berbicara dengan suara tertahan. "Sesungguhnya aku kangen kamu." Semuanya pun tumpah.
Dion bergerak berdiri dan berjalan persis ke hadapan Jia. "Boleh aku peluk kamu?"
Jia berdiri dan memberikan dirinya. "Jangan pernah pergi lagi. Aku butuh kamu, Dion."
"Kamu mau ikut aku ke Amerika?" Dan mereka berdua tersenyum.
-fin.-