Showing posts with label racauan. Show all posts
Showing posts with label racauan. Show all posts

January 25, 2021

1

 Write about 5 problems with social media


I wouldn't really count the problems but I know there are problems. At least at how I handle my own social media habits. I watched "The Social Dilemma" and I couldn't relate more. Social media's ex-staff and developers were talking about how they were always aiming to keep as much of our attention to them. The more we spend time looking at our screen with their apps open, the more they profit.

Two quotes from the movie that's stuck with me were

"If you're not paying for the product, then you are the product." - Daniel Hovermann

and

"There are only two industries that call their customers 'users': illegal drugs and software." - Edward Tufte

 

And that's exactly my problem with social media. I get easily addicted to and absorbed in it. That really bothers me since I hate being unproductive (to be fair, even without social media I am very much unproductive). However, being unproductive in social media brings another problem to me too.

Somehow, my hearts, consciousness, and intentions are not yet clear. More often than not, they rooted not in humbleness and kindness. I get jealous. Even worse, I belittle people. It builds a habit in me that talking about someone else is ok. As if I am better than everyone else. Just like how everyone who put forth their thought on the comment section or as a thread. Sometimes, my way of thinking even gets infected from all the noises on social media.

Restraining oneself, I guess, still a skill I need to master. So currently, I handle it by deleting the social media apps on my phone. I thought I get rid of the addiction. Unfortunately, my addiction moves to another. To games.

So yeah, I guess claiming control of myself is the problem after all.

August 13, 2020

people listen

Saya pada dasarnya bukanlah orang yang cukup percaya diri. Saya lebih suka diam dan memerhatikan, bahkan ketika ada yang ingin saya sampaikan. Hal ini sangat perlu saya perbaiki sih, saya sadari itu. Ide yang terpendam tidak akan pernah menjadi nyata. Pikiran yang hebat tidak akan jadi aksi yang juga hebat kalau tidak pernah ada yang tahu dan ejawantahkan.

Salah satu yang hampir selalu menahan saya dari berbicara adalah pikiran, "Ah, untuk apa? Siapa saya? Paling juga tidak akan ada yang mendengar apa yang saya sampaikan."

Pikiran yang tidak sepatutnya saya pikirkan sejujurnya. Karena pikiran tersebut hanya membatasi saya, mengecilkan diri saya sendiri, dan sangat tidak menghargai diri saya sendiri. Pelan-pelan, saya belajar untuk melawan hal tersebut. Saya belajar untuk nyaman dengan diri saya sendiri, untuk percaya dengan diri saya sendiri, untuk berhenti mengecilkan dan meragukan diri sendiri secara berlebihan. Being careful and thorough and conscientious is ok, but not overthinking.

pada sebuah acara..

Saya sempat bekerja di sebuah kantor konsultan. Secara umum, perusahaan ini tidak besar seperti perusahaan konsultan lainnya yang sudah berskala internasional dan butuh banyak lantai di suatu gedung yang besar untuk bisa memberikan tempat bagi semua pekerjanya. Namun, saya merasa sangat nyaman dengan orang-orang di dalamnya. Saya merasa bisa banyak belajar dan bersyukurnya juga cukup dipercaya untuk mengambil beberapa peran. Meskipun begitu, rasa takut untuk berbicara dan menyuarakan pendapat itu tetap ada. Saya tetap deg-degan sampai bisa keringat dingin kalau harus bicara, otak saya gak bisa berhenti berpikir saya berbuat atau mengucap salah atau menyakiti hati orang bahkan hingga beberapa hari setelah saya akhirnya bicara.

Untungnya, support systemnya luar biasa. Partner saya sangat supportif, bos-bos saya pun, dan semua bekerja dengan nilai. Kalau kamu benar, ya benar. Kalau salah, ya diingatkan. Dan setiap orang memiliki hak yang sama untuk berpendapat dengan cara yang baik kepada siapapun, bahkan ke Pak Direktur. Yang penting jujur dan objektif (seoptimal kapasitas kita).

Nah, ketika itu saya pertama kali ikut rapat mingguan yang dihadiri manajemen (para pengambil keputusan) dan kepala bidang kerja. Saya mewakili bidang saya yang kebetulan memang baru dibentuk lagi setelah saya bergabung. Dan karena saya seperti merintis bidang kerja, sejujurnya saya lumayan bingung apa yang harus saya sampaikan. Akhirnya ya saya sampaikan saja sejujurnya. Evaluasinya seperti apa. Pendapatnya seperti apa. Bodo amat ada yang dengar atau tidak.

Dan presentasi saya tutup dengan kalimat berikut yang saya dapatkan dari senior saya semasa kuliah yang hingga kini menjadi salah satu pegangan saya.

What comes from heart, reach the heart..

I thought no one listened.
Until months after that, I heard one of the management said this. He was talking to one of his colleague.

"The way you talked, it reminds me of.. I think Ghaniyya told us this. What comes from heart, reach the heart. I can feel that you talked from your heart. It reached mine."


I thought no one paid attention.

June 15, 2020

lemah (atau kuat?)

Saya terinspirasi untuk menulis ini karena tadi baru saja habis mendengar lagu RAN - si lemah dan melihat sebuat postingan di instagram. Saya jadi teringat beberapa diskusi dan hampir debat serta ketidaksamaan pandangan mengenai tangis dan amarah.

beyond the horizon..

Saya selalu berpendapat bahwa seseorang yang berani untuk menangis di hadapan orang lain untuk alasan yang genuine (whatever it means to you) adalah orang yang sangat berani dan kuat. Bukan lho, bukan nangis air mata buaya cuma untuk cari perhatian. Biasanya itu mudah dideteksi kok. Mungkin alasannya bisa jadi trivial dan sangat personal, tapi perasaannya akan tetap sama. Apakah itu sedih yang tulus atau dibuat-buat.

Hal itu, menurut saya, lebih kuat daripada orang yang tidak mau mengakui perasaannya sendiri. Lebih kuat dari orang yang berbohong dan bersembunyi di balik ketakutan dianggap lemah. Seringnya sih hal ini terjadi pada laki-laki. Namun, saya pribadi juga pernah (atau mungkin masih) menjadi orang seperti ini. Padahal, menangis, merasa sedih, merasa lemah (bukan berarti betulan lemah), perasaan apapun itu, adalah universal. Milik seluruh manusia tanpa memandang gender dan background tertentu. Semua orang berhak untuk merasa dan mengekspresikan perasaan, atau sekedar membicarakan perasaannya.

Bukan berarti saya menyuruh kalian untuk selalu mengekspresikan perasaan kalian di depan siapapun itu sih. Menurut saya, itu hal yang privat dan intim, untuk mempertunjukkan emosi yang mentah (bahasa inggrisnya lebih asik, raw emotion; saya bingung kalau disadur jadi bahasa indonesia cocoknya apa). Pengalaman itu menurut saya sangat personal dan tidak bisa dibagi dengan sembarang orang. Hanya saja, itu perlu untuk dibagi. Kalau tidak dengan orang, mungkin dengan Tuhan.

Nah, tapi inget, apapun itu, tidak boleh berlebihan. Menangis silahkan, tapi rasanya tidak perlu sampai meraung. Sedih boleh banget, tapi kalau sampai mengurung diri dan tidak mau makan berhari-hari ya bunuh diri. Secukupnya saja. Sedih, menangis, tarik nafas take your time, collect yourself again, kita mulai lagi. Bergerak maju lagi.

Itu. Begitu itu kuat.


Begitu juga dengan amarah.

Sedikit menyambung dari postingan saya sebelumnya, "biasa saja", akhirnya saya mulai mengerti. Pasangan saya sering bilang untuk tidak usah berlebihan.
"Jangan marah-marah, biasa saja."
"Gak usah nangis, biasa saja."
"Jangan bete gitu, biasa saja."
Biasa saja.

Awalnya saya pikir, ini kok jadi kayak gak boleh punya perasaan? Aneh sekali. Padahal perasaan itu diciptakan pasti ada tujuannya, pasti perlu untuk dirasakan. Kalau memang apa-apa biasa saja, kenapa juga perlu ada yang namanya perasaan di dunia? Kenapa kita selalu didorong untuk bersimpati, bahkan berempati terhadap orang lain? Untuk apa?

a random stranger; perhaps waiting..

Jadi, ternyata orang yang kuat adalah orang yang mampu mengetahui dan mengidentifikasi dan mengakui perasaannya sendiri, dan yang terutama mengontrol perasaan tersebut. Orang kuat bukanlah orang yang mampu mengalahkan dan mengecilkan orang lain dengan mempertunjukkan kuasa dalam amarahnya, sama sekali bukan itu. Orang yang kuat adalah yang mampu untuk mengekspresikan amarahnya dengan cara sebaik-baiknya.

Lagipula, marah-marah tidak pernah menyelesaikan masalah. Tidak membuat pesan yang ingin disampaikan juga jadi tersampaikan. Lebih lagi, tidak membuat kita mendapatkan respek atau perhatian yang kita butuhkan. Yang ada malah kita dibenci, menambah dosa, menambah musuh, menambah beban psikis dan fisik pada diri sendiri, dan menambah masalah sih intinya. Saya pribadi mempelajari ini melalui pengalaman langsung.

Akhirnya saya belajar. Saya marah-marah tidak membuat lawan bicara saya mengerti apa salahnya dia sampai saya jadi marah. Yang ada, ujungnya berantem karena saling marah dan saling gak mau kalah. Saya belajar untuk menyampaikan dengan cara yang baik dan suara yang tidak tinggi ataupun keras.
"Saya tidak suka kalau kamu begini."
"Kamu membuat saya marah dengan bersikap dan berkata seperti itu."
Dan tidak menjadi lepas kontrol.

Itu. Itulah kuat.
Semoga saya tidak mengkontradiksi omongan saya sendiri.

February 3, 2020

flashbacks

i was trying to sleep. but somehow i just couldn't.
sleep was never really been a problem to me. at least, since i was 5 yo.

when i was little, there was a period where i was so afraid to close my eyes. the image i got when i closed them, i couldn't bare as a child. i knew even then that everything was just my imagination. however, i felt terrified i couldn't surrender and sleep.

every time it occurred, i came to my parents. they told me to recite Al-Fatihah over and over until i fell asleep. and yeah, for several days i recited Al-Fatihah to get to sleep. some days, i made some variations. i recited Ayat Kursi. i did dzikir. and once, when i still couldn't doze off, i told myself repeatedly "emptied your mind". they worked fine for me.

what did i see that make me scared?

faces. unknown multiple random faces. or some other time the face of a murder victim in Detective Conan's manga.
hands. reaching out to me.
eyes. peeping through my blinds, spying on me all night.
faces again.
and a same set of dream landscape.

and i got older.
and the images faded.
and gone for good.

"push and pull"

but suddenly out of the blue, when i closed my eyes, i saw flashbacks.

it was like my life was turned into a movie and played right before my eyes. like, what the?
it got me thinking. was this the end of my life?

fortunately, not.
i'm still here. very much alive and well.
it's just, the experience left me with this guilty and uneasy feeling. what have i been doing all my life? why is it that everything i did, i did wrong? all of those times felt wasted. even though i consciously realize that everything happens for a reason, i can't help but thinking that i'm such a failure in life.

how come everyone can easily figure their life out easily?
how come they know what they want to do with their life?
how come everything goes smoothly for them?
how come?

all questions are circling around on my mind. i know the answer. i just don't want to admit. sometimes i just want to rant and get angry with life and just blame someone else. when it should've been me i blame. when at the same time, NO ONE is to blame. it's just how life is.

nothing comes easy.
however, everything is achievable.
believe, Ghan.
work your ass off
and believe.

February 26, 2018

parallel life

Parallel.
par∙al∙lel
/ˈperə-ˌlel/

adjective
(of lines, planes, surfaces, or objects) side by side and having the same distance continuously between them.

  • occurring or existing at the same time or in a similar way; corresponding.
  • involving the simultaneous performance of operations.
  • of or denoting electrical components or circuits connected to common points at each end, rather than one to another in sequence.

perception


has this ever crossed your mind?

while you're seeing other people talking to another stranger, have you ever had a thought of what is actually going on in their life? what are they talking about? what are they doing after this?

or when you're seeing a movie or reading a novel with first person point of view where you can only know, see and hear what this person know, see and hear. have you ever wondered what happen to the other character when the protagonist isn't with them? when the camera isn't pointing at them?

i have. not just once.

i'm curious. you know, sometimes we tend to make our problems to seem to be the biggest of all. but anyway, we can only see what we see. even for some people, they only believe what they see. and we can't see everything, can we? so, i don't necessarily blame them for that.

what i see, we are actually a dot in this world. a dot that is currently on a journey making a line in everywhere. maybe sometimes the lines are crossing with each other. sometimes they stay together for some time and then they just find another way apart. and it's not just about two dots. it's about millions of dots. including those who are even still there after they died.

hey, we're connected. in so many ways, don't you think?

February 15, 2018

mati rasa

saya takut saya akan mati rasa.

the soothing blue


bagaimana tidak?

setiap saya ingin membantu orang yang kesusahan dipinggir jalan, saya ditakut-takutkan dengan kejadian pencurian dan penipuan.
setiap saya mencoba ramah dan berbincang dengan orang yang sama sekali tidak saya kenal, saya kembali ditakutkan dengan kejadian penculikan.
setiap saya ikut sedih melihat orang-orang yang sedang mengalami musibah di luar sana dan bertekad untuk berangkat menjadi relawan, orang mencemooh. mereka bilang saya berlebihan.

tidak berhenti di sana.

sewaktu saya sedang kesal terhadap seseorang atau terhadap keadaan, saya disuruh melupakan itu. mereka bilang, "sudahlah, jangan terlalu dibawa emosi. santai aja. mungkin dia khilaf."
di lain waktu, saat saya sedang sedih ingin menangis, mereka bilang, "sudah sudah. tidak ada yang perlu ditangisi. yuk, kita main aja."
dan di saat saya menemukan hal yang lucu hingga rasanya ingin tertawa terbahak-bahak, mereka malah menahan saya. "hey, jangan berisik. ganggu."

iya, sungguh. saya takut saya akan mati rasa.

saya takut lupa bagaimana cara mengekspresikan diri saya. saya pun takut saya akan sampai pada titik saya tidak mau peduli lagi, karena saya lupa bagaimana caranya untuk merasa, untuk bisa menumbuhkan simpati dan empati. saya juga mungkin akan lupa bagaimana untuk bisa menjadi kritis, karena pada akhirnya suara saya tidak akan pernah terdengar dan, ya, apa pula peduli saya hingga sampai rela memutar otak, memperhatikan secara dalam, dan berusaha mencarikan solusi?

saya takut.
semoga saja tidak.




sudut kamar,
10.31PM
ditemani Chet Baker - Embraceable You
dalam playlist berikut yang asik nemenin tidur

July 31, 2017

[212] wirosableng

Why did I choose that title? Simply because of the number.

i'm 22 and i can't believe it. goodness, am i seriously getting older? even though i know how simple of a knowledge it is, getting older each seconds, but believing isn't that simple. july 26th, 00.05am, i get older for another year.



what have i done these past 22 years and 5 days? what have i achieved? have i made my family proud? have i? these questions always bring me to tears. to self-pity. to a very long silence. and i've never felt confident enough to answer those questions because i know the answers are disappointing.

i'm grateful to have my family and my friends who love me, who always there, who always try to understand me, and who never give up on pushing me.i just hope i can start reacting to your push soon. i can start moving soon. wherever it is i'm going.

i'm getting older, but am i getting more mature each second?

July 22, 2017

[203] obrolan random

What if I don't love you anymore?
"Ya sudah. Yang penting kamu bilang."
But, that would be very sad and I don't want it.
"Ya kan hal itu juga gak akan terjadi begitu saja. Pasti ada sesuatu hal yang terjadi sebelumnya yang membuat kamu jadi seperti itu. Mungkin aku melakukan sesuatu yang bikin kamu memilih untuk berhenti. Atau apapun itu. Yang penting kamu selalu jujur."

Will we still cute and romantic after a very long time? I know this is a stupid question. It was suddenly there in my mind, one random night when I was trying to sleep. What if after we're married, we stop being cute? We stop trying to impress each other, to show our love to each other. What if?
"Sudah menikah, sudah tunangan, ataupun sudah pacaran, itu semua cuma mengenai status. Apa menurut kamu kalau mereka sudah menikah mereka sudah pasti akan bahagia? Apakah sudah pasti saling mencintai? Eh, jangan anggap pikiranku jahat lho, ini cuma contoh. Apa menurut kamu pasti?"
No?
 "Nah. Semua tuh hanya mengenai alasannya. Kalau memang dia cuma cari statusnya, cuma cari uang atau tahtanya, ya kan beda pasti dengan yang memang mungkin ingin beribadah. Atau memang karena cinta? Maaf kalau bahasanya agak berlebihan. Tapi memang begitu bukan kenyataannya?"
Hmm.. Will we? Keep being fun?
"Kamu mau gak?"
I want it. Oh! I understand now. It's up to us, right?
Yup.
So, yeah, we will.
Insya Allah.

May 22, 2017

[142]

Saat ini saya sedang mencoba untuk mengikuti salah satu project buku di komunitas saya. Dan sungguh, rasanya menyenangkan. Sepertinya saya sekarang ini masih perlu untuk diberikan deadline agar benar-benar menulis, tidak hanya sekedar meracau. Yah, tidak seperti tulisan ini setidaknya.

Yang menyenangkan lagi adalah melihat salah seorang teman saya yang sangat berapi-api dan all out setiap kali memberikan penjelasan mengenai bagaimana menuliskan cerpen atau novel yang baik. Bagaimana dengan tanpa bayaran dia rela untuk membantu kami yang juga ingin bisa menerbitkan kisah-kisah kami.

Bukan asal membantu, di waktu senggangnya, ia mau untuk menghampiri kami di tempat yang berbeda hanya sekedar untuk memberikan materi menulis. Bahkan di salah satu tempat, akhirnya hanya satu orang yang datang dengan janji awal akan ada 3 orang. Di sela-sela waktunya, dia pun mengecek satu-satu tulisan kami ber-13, memberikan feedback bahkan per kata, dan mampu memikirkan saran untuk alur cerita yang lebih baik.

Ternyata seperti itu ya melihat orang yang bekerja berdasarkan passion mereka.

Saya terkesima.

Saat ini, saya juga sedang mencoba untuk membaca "The Happiness of Pursuit" oleh Chris Guillebeau. I found the book months ago and haven't picked it up for months, too. You know, books are piling up in my home I don't when I will start to finish them one by one. Susah banget untuk berhenti beli buku, lho. Saya sampai bingung sendiri.

Ya, jadi sejauh yang saya baca, buku itu mengenai orang-orang yang menemukan hal yang sangat menarik bagi dirinya hingga mereka membuat misi di hidup mereka. Dan sebagaimana anehnya misi mereka tersebut, mereka bahagia menjalani hidup yang mereka jalani karena memang itu adalah hal yang sangat menginspirasi mereka dalam hidup.

Entah, setiap kali saya bertemu orang yang berapi-api, yang menuangkan seluruh hatinya dalam apa yang ia kerjakan, yang memancarkan hal tersebut setiap kali ia melakukan sesuatu ataupun menceritakan kisah tersebut, saya sedih sendiri. Saya apa?

Setelah saya pikir kembali, apa yang selama ini mengganggu saya?
Hem, saya terganggu dengan bagaimana seseorang bisa semena-mena hanya karena merasa lebih dalam hal kekayaan atau pengetahuan atau posisi. Saya terganggu dengan orang yang tidak bisa bersikap dengan lebih sopan, tak peduli terhadap yang lebih tua ataupun yang lebih muda. Dan saya terganggu terhadap orang-orang yang tidak bisa mengatakan apa yang sebenarnya ada di kepala mereka.

But, semalu apapun saya mengakui ini, what excites me the most is love relationship. I don't know why I feel shame of this, tapi memperhatikan bagaimana seseorang berinteraksi dalam suatu hubungan, mempelajari nature of a man and a woman, kok kayaknya menarik banget. Saya juga tidak tahu apakah mengenai hubungan percintaan itu sendiri atau mengenai manusianya yang menarik, tapi saya sungguh memang tertarik.

Meskipun begitu, saya masih tidak tahu akan mengambil jurusan apa untuk studi master saya.

May 11, 2017

[131]

Pada akhirnya, target yang saya gembar gemborkan di awal tahun pun tidak terlihat sama sekali. Tidak terlaksana sama sekali. Agak sedih juga, ya?

Dari mengenai satu postingan sehari dalam setahun hingga jogging tiap pagi. Belum ada yang terlaksana. Saya mau bicara saya harus mulai lagi, namun saya takut malu omongan tersebut hanya bertahan lima menit dan akhirnya ratusan hari akan kembali terlewati tanpa apapun. Dan tetiba saja saya sudah berakhir di penghujung tahun.

Ghaniyya, sesungguhnya apa yang kamu inginkan?

April 9, 2017

[99] fluctuate

"You can get mad at me. You can hit me as hard as you want. You can yell at me. But please remember one thing, don't ever ignore me. It hurts." -him-
I don't know what happened with these past few weeks (or months?). I turned into this sensitive jerk who easily got angry when nobody's around or when I was in front of some really close people.
"Sweetheart, let's try to control it better. Try to calm yourself down whenever you feel like getting angry. It never does you any good, doesn't it? Another thing, don't vent your anger to things around you. Maybe it's just your doll or headset for now, but we never know what would happen in the future. It could be me that you break." -him-
Yeah. I realize it already, from when I was angry to be exact. I didn't even want to get angry. I know that I was just hurting myself doing so. But, you know, sometimes you just wanted people to know. You just wanted people to understand and to feel the same anger that you had. And..... it's totally wrong.

Let's be calm and be more patient.
Bismillah..

June 6, 2016

restart

Greetings everyone!

I am sorry for the long pause from the last post I made. I just couldn't find the time (and the mood) to make any post. I was busy teaching from 7am-6pm for around 6 days a week. Although, the money is great, but my mind and body are depleted in the process. I can't lie that I enjoyed doing it at some point. But, putting more thoughts into it, it is rather more exhausting than fun. Maybe it was just me. I am not really good in giving great first impressions and setting the atmosphere of the class. I ended up draining my energy having to think about how to turn up the mood.

Maybe it's just not my thing.

I feel like I haven't discovered myself that much yet. And for that, I still have a long way to go and so many things to try. But, first thing first, I need to be more focused. Anything I am doing, I have to invest my all. My mind, my energy, my time, and my everything. That is the most important of all.

Other than this issue, I'm just happy. Even though I felt empty at one time, I realized it was not the end of the world. I have to be a mindful person. I have so much love around myself that losing one won't affect anything. That keeping your friends and family close is the most necessary. That praying to God really helps a lot.

and maybe, it is time to restart again.

Happy Fasting! Happy Ramadhan!

March 6, 2016

just try

Stop being scared
But never stop loving me
For my feeling will never fail you
For this story will never end
Because you, me, and all in between
What has happened was the truest of all

So, stop being scared
Because I know you
Even when you don't know yourself
Deep down
We are attracted to each other
And it's more than enough.



With a glass of mocha latte, Oct 2nd 2015

February 9, 2016

mengabadikan

Saya sangat menyukai frasa membekukan kenangan yang saya temukan dalam sebuah novel dalam negeri, namun saya lupa apa judulnya. Sebagai seseorang yang cukup bisa dikatakan pelupa, saya menyukai ide ini. Bekuan kenangan ini dapat berupa apapun. Mungkin foto, video, cerita, atau sekedar 2 atau 3 kalimat.

Mungkin sebagian orang berpikir tidak akan ada banyak hal yang bisa diabadikan dalam kehidupan sehari-hari. Aktivitas monoton yang terus diulang terkadang memberikan kesan membosankan. Kenyataannya, tidak pernah ada hari yang sama persis satu dengan yang lainnya. Ini hanya mengenai perspektif dan sudut pandang. Karena penampakan suatu benda, jika kamu bergeser sedikit saja, akan memberikan efek yang berbeda.

Isn't it the beauty of living?

December 8, 2015

pergantian tanggal

tidak banyak yang mampu aku katakan.
aku.. sedang jatuh cinta. tidak tahu terhadap apa tepatnya hati ini menjatuhkan perasaannya. namun memang ada yang berdesir di dalam sana setiap kali pikiran itu melintas.

atau mungkin hanya jantungku yang mengalami gangguan kesehatan? kuharap tidak.

debaran yang secara tiba-tiba berubah tidak konstan, aku benar-benar tidak mengerti apa yang sesungguhnya sedang terjadi. bahkan terhadap hal kecil. detak tersebut terlalu kuat hingga aku butuh batuk untuk menyeimbanginya.

ini apa?

and actually, i think, i am just in love with languages. i really want to master some of it. english, spanish, italian, arabian, chinese, japanese, french, and many more. there are some sexiness in mastering those languages. at least, that's what i think. i am fascinated by the way other language is talked. there's an art in it. and i want to be able to talk the same way.

October 7, 2015

BAHAGIA

Akhir-akhir ini, kata ini begitu sering muncul menjadi pusat perbincangan. Mungkin karena ini bulan September    September Ceria? Atau kenyataan bahwa sejak tanggal 23 September lalu hingga akhir tahun akan tepat 100 hari. Atau mungkin realita saat ini yang seakan menghisap semua kesenangan hingga manusia perlu untuk saling diingatkan untuk berbahagia?

Mungkin.

Sudut pandangku melihat   dan selalu melihat   bahwa inilah hidup. Hidup akan selalu menerbangkanmu tinggi di atas awan dan menguburmu dalam tanah secara bersamaan. Setiap kejadian tidak akan bisa dihindari. Semua, bahkan hingga bagian terkecil, harus dihadapi. Namun, apakah mereka harus menjadi penghalang bagi kebahagiaan?

Tidak.

Berbahagia ada di hati dan pikiran masing-masing manusia.
Satu-satunya yang mampu menghalangi bahagia hanya kamu dan dirimu sendiri.

October 6, 2015

in the middle of everything

umm.. Hi?

It has been awhile since my last post. I don't know why. I blank in the minute I face my laptop.

I feel empty.
I feel like there's something missing in my life. Like I am not complete yet. I'm not talking about looking for my other half kind of completion. But it's more like.. who am I? What am I doing all this time? What do I try to achieve in this life? How do I want to live my life? And many other unanswered questions.

People around me always moving forward. Chasing their dreams. Seems like they already on their right tracks. They know what they want to do. They know what they need to do. And I'm still messing around with my life. I'm still stuck at the very same point.

I love myself.
I do.
I have to, right? To make myself really love myself and try to be lovely.

August 19, 2015

mengenai 17-an dan upacara

Saya rindu upacara pengibaran bendera.
Semuanya masih teringat jelas di kepala.

MC akan mengatakan, "Pengibaran Bendera Merah Putih diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya."
Seketika hening.
Dan Komandan Pleton akan meneriakkan aba-aba, "Siap gerak! Langkah tegap majuuu..JALAN!" dengan suku kata 'ju' yang cukup panjang tegas. Seluruh pasukan, dengan seragam, menghentakkan langkah pertamanya.
Seluruh peserta akan menoleh mencari sumber suara, melihat dengan seksama dan pandangan kagum (setidaknya itu yang saya lakukan jika saya menjadi peserta).

Laki-laki dengan wajah 'sok' garangnya dan perempuan yang harus mempertahankan senyumnya apapun yang terjadi dengan pandangan mata harus tetap terjaga menatap ke depan. Semuanya bergerak seirama. Ketukan langkah yang sama, ayunan kaki dan tangan sama tinggi, seluruhnya satu dalam beberapa kepala.

"Buka formasii..JALAN!" ujar Komandan Pleton.
Pasukan bergerak menuju berbagai arah tanpa terlihat berantakan. Berakhir dengan bentuk tertentu yang mungkin terkadang tidak dapat dilihat oleh peserta, namun mereka yang membuatnya merasakan kesenangan tersendiri terhadap karyanya.
"Hentii..GERAK!"
Dua ketukan tambahan dan hening kembali datang.

Di antara seluruh komponen upacara yang tidak boleh bergerak, tiga orang Pengibar Bendera menjadi satu-satunya yang melakukan pergerakan. Setelah mendekati tiang bendera, salah satu yang berdiri di tengah akan berbalik badan dan menunggu Pembawa Bendera mengantarkan bendera yang ada pada baki yang dia bawa.
Di sinilah letak prestisius menjadi seorang Pembawa Bendera. Ketika Pengibar Bendera bergerak bertiga, ia, seorang diri, bergerak dengan seluruh mata tertuju hanya padanya.

Bagian paling menegangkan hadir ketika Pembentang telah siap menggenggam sudut-sudut Bendera Merah Putih yang masih terlipat di tangan Penahan dan Pengerek bersiap menggenggam tali tiang bendera.
Semua orang menahan napas menunggu mendengarkan bunyi bendera terbentang.
BET! "Bendera siap!" ujar Pembentang.
Nafas kembali berjalan dengan lebih normal.

"Kepada Bendera Merah Putih, hormaaa..t GERAK!" Pemimpin Upacara memberikan aba-aba.
"Hiduplah Indonesia Raya.." ujar Dirijen menetapkan ketukan dan nada dasar.
Seluruh komponen upacara pun menyanyikan lagu kebangsaan tersebut dengan hikmat.

Pengibaran bendera selalu menjadi bagian ter-favorit dalam upacara bagi saya pribadi. Kini mungkin banyak yang melakukan upacara pengibaran serta penghormatan terhadap Merah Putih dengan cara-cara yang lain. Ada yang melakukannya di dasar laut, ada yang mengibarkan bendera raksasa di sisi tebing, dan masih banyak cara lainnya.

I fancy the old way.
Saya kangen menjadi pasukan pengibar bendera.

July 6, 2015

hening yang terpecah

selamat malam.

kepada kamu dan siapapun yang lainnya.
sesungguhnya saya sedang tidak dalam kondisi penuh dengan kata. atau juga dalam perjalanan yang meningkatkan adrenalin dan memberikan dorongan besar untuk diceritakan dan dibagikan kepada dunia.

saya sedang merasa datar.

there's so much things going on in my mind right now but i just can't get it right. i can't sort it out. semua layaknya badai yang berputar, dengan harap tidak menghancurkan. sepertinya saya sedang membutuhkan obrolan yang dalam. paksaan untuk berpikir.

mengenai saya.
kelanjutan hidup saya setelah ini.
kerja, S2, tulisan ataupun fotografi, kamu yang belum saya ketahui rimbanya, segalanya.

manusia akan selalu memiliki gambaran ideal mengenai kehidupan. untuk sisi manapun. yang terkadang orang pesimis akan menyebut gambaran ideal itu sebagai mimpi siang bolong. namun, apa salahnya? daydreaming is not a crime. hanya saja semua harus sejalan dengan setiap usaha yang dilakukan untuk mencapainya.

seseorang tanpa mimpi adalah setengah mati, bukan?